Dari Hari ke Hari

Friday, June 10, 2011

Pilihan Orang Dewasa

Saya katakan padanya bahwa bagi orang dewasa memilih jalan hidup adalah sebuah keniscayaan. Tapi lakukanlah pilihan itu secara dewasa pula. Penuh pertimbangan yang mendalam dan penghayatan. Janganlah pilihan itu dilakukan ketika sedang marah, ketika sedang kecewa, ketika hati sedang dilanda kebencian. Dia tak bergeming. Bahkan memulai putaran baru mengekspresikan kekecewaannya terhadap orang-orang yang pernah dekat dengannya selama puluhan tahun. Ditudingnya orang-orang itu sebagai kelompok yang penuh kepura-puraan. Yang hanya dekat dengannya ketika dia punya uang, dan menolaknya ketika rejeki surut.

Termangu saya dibuatnya. Memang akhir-akhir ini dia bergaul dengan beberapa teman baru yang menjadi dekat dengannya karena bersedia mendengar keluhannya dan memberinya berbagai wejangan yang masuk akal dan hatinya. Sayapun tahu bahwa teman-teman barunya itu tidak ada yang berniat buruk padanya, bahkan semuanya ingin membantu menyelamatkannya dari keterpurukan.

Tapi satu hal yang saya tidak bisa mengerti adalah keengganannya untuk memahami kelemahan dan keterbatasan orang-orang yang pernah dekat dengannya, yang pernah dicintainya sepenuh hati, yang pernah menghangatkan hatinya, yang pernah mengelilinginya dalam tawa dan tangis.

Saya ajak dia untuk kembali. Saya ajak dia untuk sembuh. Saya minta dia untuk keluar dari persembunyiannya dan menerima kenyataan hidup secara seutuhnya dan seadanya, kalau perlu dengan tangis lagi. Dan setelah itu mari kita bangun lagi hidup baru menuju keberhasilan yang membahagiakan.

Kembali, dia tak bergeming.




Thursday, March 31, 2011

Mas Agung Pulang ...

Sepuluh setengah tahun, katanya. Sudah waktunya pulang. Sepuluh setengah tahun di Arab Saudi, bukan waktu yang hanya sekilas, cukup panjang terentang antara Jakarta dan Jeddah. Dan sekarang Jakarta lagi. Profesional Indonesia, yang berprestasi di luar negeri, sekarang pulang kampung. Banyak sudah manfaat yang ditinggalkan di Jeddah, semoga bisa diteruskan di Jakarta. Yang pasti hari Jumat pagi, saat kita biasa bersepeda ria, kami yang tertinggal di perantauan akan kehilangan Mas Agung.

Selamat jalan. Selamat sampai tujuan.

Thursday, November 02, 2006

Misteri

Perjalanan hidup ini penuh dengan misteri. Dan kita tidak selalu ingin memperoleh kunci pemecah misteri tersebut. Seringkali kita bahkan ingin membiarkan misteri sebagai misteri, karena misteri-misteri ini membuat kita terus penasaran dan merangsang aktivitas "mikir." Walaupun banyak kali juga kita tidak ambil pusing dengan misteri -- let it be that way.
Misteri bisa meliputi peristiwa yang terjadi di masa lalu (contoh: "Bagaimana Hitler mati, sampai sekarang masih diliputi misteri.") atau di masa yang akan datang (contoh: "Apa pekerjaan saya besok? Kapan saya mati?") Semua yang akan terjadi di masa depan diliputi oleh misteri. Bahkan apakah hal tersebut akan atau tidak akan terjadi -- tidak ada yang tahu.
Untuk peristiwa lampau, berdasarkan pengetahuan yang ada kita membuat hipotesa dan mencoba mengungkap sang misteri dengan mengujinya di lapangan. Untuk peristiwa yang akan datang, kita membuat proyeksi berdasarkan pengalaman kita di masa lalu, seakan-akan hidup ini sesuatu yang linier. Tapi, ya memang demikianlah keterbatasan kita. Kita hanya mampu memanfaatkan senjata yang ada pada kita saat ini, terlepas dari ketebatasan senjata itu sendiri.